Pusat Analisis Informasi Pariwisata

Icon

Pentingnya Evaluasi Program Visit Indonesia Year 2009

Harian Ekonomi Neraca
Tue, 01/05/2010

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik perlu mengevaluasi program Visit Indonesia Year (VIY) 2009 dan program lainnya sebelum meluncurkan program baru pada Tahun Macan Logam. Pasalnya, program berkelanjutan tanpa dibarengi proses evaluasi hanya akan menemui jalan buntu karena berpotensi menghapus kepercayaan publik terhadap kinerja kabinet

“Sejak 2005 ada banyak program yang dilempar ke publik tapi tak jelas kabarnya dan tidak pernah terdengar hasil evaluasinya, padahal sangat penting mengetahui letak kekuatan dan kelemahan sebagai pembelajaran tahun berikutnya. Seperti pelaksanaan VIY 2008 belum ada evaluasi, tapi kemudian dilanjutkan ke VIY 2009,” kata pengamat pariwisata dari Universitas Indonesia Jones Sirait, di Jakarta, kemarin.

Jones menyayangkan, perspektif Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang tidak memberikan porsi evaluasi ini dalam program 100 hari. Hal serupa juga tercermin dari terus tertundanya pembentukan Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI). Sepatutnya, pembentukan lembaga itu menjadi bagian dari prioritas program 100 hari kementerian tersebut.Kesinambungan VIY dari tahun ke tahun sejak 2008 merupakan upaya lain dalam mendongkrak anggaran yang selama ini dirasakan sangat minim.Tapi, kata dia, peningkatan anggaran pariwisata secara signifikan tanpa disertai prestasi yang memadai justru akan mengundang tanda tanya lebih besar.

“Jangan memberikan contoh buruk, apalagi sejumlah daerah saat ini sudah meluncurkan tahun kunjungan untuk daerah mereka. Mereka nanti bisa berdalih pusat saja tidak serius apalagi di tingkat daerah,” kata Direktur Pusat Analisis Informasi Pariwisata itu.Jones juga mempermasalahkan data statistik kunjungan wisatawan baik dari mancanegara maupun domestik sepanjang lima tahun berselang. “Apakah jumlah itu memang benar seperti di lapangan. Atau seperti dicurigai berbagai kalangan sebagai angka pesanan” katanya.

Sesuai data, kunjungan wisatawan mancanegara pada 2010 diharapkan tembus 7 juta. “Dari mana itu? Saya pikir kita perlu siap-siap saja muncul klaim dari sisi kunjungan tidak terpenuhi tapi devisa naik,” katanya.Untuk kejelasan terkait angka-angka statistik ini, Pusat Analisis Informasi Pariwisata akan mengadakan investigasi sejauh mana kebenaran klaim pemerintah itu, terutama sejak 2005 sampai 2009. “Kesalahan kita selama ini adalah terlalu percaya begitu saja, tanpa ada upaya untuk menyuguhkan data-data pembanding. Jadi kami sedang menggarap bidang ini, sehingga publik tahu apakah ada unsur pembohongan publik atas semua klaim itu,” kata Jones Sirait.

Untuk 2010, menurut dia, pemerintah harus bekerja lebih baik dalam melakukan pemasaran dan koordinasi dengan daerah dalam pengembangan kegiatan pariwisata daerah.Salah satunya terkait dengan anggaran dan bagaimana manajemen sebuah “event” daerah, seperti dalam kasus festival ataupun tahun kunjungan wisata daerah.Terus terang banyak event daerah yang mandul dan sepi padahal cukup besar dana yang terserap. Dalam kasus event itu milik provinsi, pemkab/pemkot tidak mau ambil pusing, meskipun event itu ada di daerah mereka. Mereka akhirnya bermain sendiri-sendiri, apalagi Jakarta ternyata tidak cukup membantu,” katanya.

Terkait pendanaan, selain transparansi, dia mengingatkan penggunaannya juga harus dibelanjakan untuk kegiatan yang benar-benar produktif mendatangkan wisatawan. Selain perlunya berpikir prioritas dan bekerja keras untuk menghadapi double defisit pariwisata Indonesia akibat arus penerimaan yang tak seimbang antara wisatawan yang masuk dengan wisatawan Indonesia yang keluar.”Jangan berpikir semua daerah di Indonesia itu destinasi unggulan. Sebab kita harus kembali kepada kondisi riil di daerah terkait banyak aspek. Untuk lima tahun ini fokus saja kepada satu-dua destinasi yang benar-benar siap dan bantu mereka all out. Biarkan destinasi lain tumbuh alamiah karena kita perlu melihat komitmen mereka,” imbuhnya.

Dari sisi pemasaran juga begitu, harus cerdas dalam menjual dan fokus kepada pasar produktif. “Jangan terlalu muluk melakukan ekstensifikasi pasar maupun destinasi,” kata Jones Sirait.Menbudpar diharapkan bisa menyelesaikan perencanaan makro pariwisata Indonesia guna menyajikan panduan yang jelas dan tegas. voki

Filed under: Pariwisata Umum, Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: