Pusat Analisis Informasi Pariwisata

Icon

Supertankers?

Oleh Jones Sirait

DALAM industri MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition) reputasi sebuah planner/organizer seringkali diukur dari seberapa sering ia terlibat dalam menggelar sebuah kegiatan yang terbesar, terpenting, dengan liputan media massa yang serba berukuran XXL. Semua berebut dan berjibaku untuk merebut peserta, pengunjung, sponsor, liputan media yang lebih banyak. Itu sebabnya MICE itu sangat terkait marketing di semua lini.

Setiap pameran selalu perang judul, perang ide, perang statistik kunjungan. Ada yang main kayu, mendongkrak laporan jumlah pengunjung sekian persen dari jumlah real. Pokoknya harus naik, tak boleh turun. Wajar karena hal itu juga mempertaruhkan reputasi dan pertanggung jawaban kepada peserta pameran maupun sponsor, saat ini maupun dalam event yang sama tahun depan. Padahal kecemasan semacam ini tidak serta-merta jadi momok karena sebuah pameran sangat terkait kondisi yang terkini saat pameran berlangsung, yang kadang-kadang nonteknis.

Memang ada sedikit pengecualian, Professional Conference Organizer (PCO) kadang tak butuh sponsor, juga tak butuh peserta lebih banyak kecuali hanya yang menjadi members dari asosiasi bersangkutan, misalnya untuk sebuah konferensi yang sifatnya IGO’s (Inter-Governmental Organizations). Itu karena anggaran sudah disiapkan sebelumnya oleh pemerintah bersangkutan dan sesuai tingkatan pertemuan, sebutlah ASEAN Ministrial Meeting yang tentu hanya akan diikuti menteri-menteri negara ASEAN. Dalam urusan ini, tentu saja urusannya bukan lagi soal besar peserta tapi seberapa penting arti pertemuan itu.

Bahwa kemudian dunia E (Exhibition) disebut-sebut jauh lebih “gila” dibandingkan dunia C (Congress, Conference, Convention) karena tantangan kreatifnya jauh lebih dinamis, agaknya tidak keliru juga. Meski memang tidak seluruhnya begitu. Dunia C juga dituntut ide-ide kreatif, misalnya, saat dihadapkan pada bidding internasional, penyusunan program, penggalian thema terutama saat melahirkan conference yang bersifat inisiatif atau sama sekali baru.

Bahkan, meski terlihat lebih simpel, ada kalanya dunia C sebenarnya jauh lebih kompleks dan rumit dibanding dunia E. Mengapa? Itu karena banyaknya pihak yang terlibat sekaligus, yaitu pihak host (asosiasi internasional), asosiasi lokal, pemerintah lokal, perusahaan PCO, supplier dan seterusnya. Salah-salah, antara satu pihak dengan pihak lain bisa salah pengertian terutama soal siapa yang harus bertanggung jawab terhadap apa.

NAH, persoalan kita akhirnya ingin mengerucut pada satu hal: bagaimana menghadirkan sebuah E dan C yang supertanker bukan speedboat? Sesuatu yang berkelas event XXL sekelas Olimpic Games, FIFA World Cup dalam dunia E atau C. Sesuatu yang membawa banyak penumpang, menghasilkan ombak besar, publikasi besar dan keuntungan besar?

Dalam dunia international meeting, supertanker itu adalah convention dengan jumlah peserta bisa 10.000 atau lebih dari banyak negara sekaligus dengan tokoh-tokoh penting dunia di sana. Itu umumnya dimiliki oleh event besar yang dimiliki oleh asosiasi-asosiasi di United Nation.

Dalam dunia E, supertanker selalu mengacu kepada sejumlah pameran terbesar di dunia semacam ITB Berlin (pariwisata), Computer Trade CeBIT Hannover (komputer), dan International Automobile Show di Detroit, Geneva, Tokyo (otomotif). Itu hanya beberapa disamping nama pameran lainnya.

Tapi meski konsep supertankers merupakan dream, tapi berapa banyakkah planner/organizer kita yang punya kemampuan dan kesempatan untuk mewujudkannya? Berapa diantara mereka yang sukses dan kebanyakan tinggal gagasan yang tidak pernah mampu direalisasikan?

Pertama, supertanker tak bisa datang dengan sendiri saat Anda melamun. Supertankers adalah pertarungan antarbangsa, antarnegara yang perlu uang dan lobi plus keberuntungan (salah satunya ketentuan soal rotasi per benua dalam sebuah konvensi). Kelasnya tak cukup lagi sekadar menteri tapi harus presiden, misalnya. Rekomendasi tak cukup lagi hanya satu negara tapi juga persekutuan negara.

Kedua, supertanker tak bisa dilaksanakan dengan manajemen speedboats, tapi harus juga supertankers dengan tingkat kesulitan dan manajemen risiko yang penuh perhitungan matang. Kenapa? Karena supertanker membawa dampak untung besar sekaligus buntung yang besar dan luas.

Singapura dan Thailand itu sebenarnya lebih banyak sukses dengan speedboats. Kecil-kecil tapi sering. Bahkan durasinya juga pendek-pendek, dua-tiga hari. Kalau dihitung total jenderal per tahun bisa jadi satu supertanker juga. Kita bisa duga kelasnya lebih banyak corporates daripada associations, NGO atau pemerintahan.

Dalam bahasa perusahaan, speedboats itu margin keuntungannya memang kecil, tapi dengan seringnya event yang digelar satu planner/organizer makin mudah juga pembiayaannya. Lalu bagaimana?

Baiknya, saya kira, harus punya impian menggarap supertankers, tapi jangan juga lupakan speedboats. Meski kecil ia bisa membawa perusahaan atau diri Anda menyeberangi lautan saat krisis atau angin sakal menghantam. Gengsi? Kalau itu alasannya, kita tak bisa berbuat apa-apa. Silakan saja. ()

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah VENUE No7/Januari 2009

Filed under: MICE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: