Pusat Analisis Informasi Pariwisata

Icon

Benarkah Anggaran Pariwisata Kita Terlalu Kecil?

BERAPAKAH anggaran pariwisata, khususnya anggaran pemasaran/promosi, yang paling ideal untuk sebuah negara seperti Indonesia? Benarkah anggaran pariwisata kita itu sangat kecil sehingga selalu dijadikan alasan atas kegagalan kita meraih lebih banyak wisatawan asing untuk berkunjung ke Indonesia?

Konon, World Tourism Organization (WTO) memberi patokan sangat moderat bahwa untuk mendatangkan satu orang wisatawan dibutuhkan 10 dolar AS? Jika batasan itu dipakai, maka logikanya sangat wajar jika dengan target 7 juta orang, dibutuhkan dana pemasaran pariwisata sebesar 70 juta dolar AS atau Rp700 miliar.

Namun WTO bukan monopoli pemberi pertimbangan soal berapakah seharusnya anggaran pemasaran pariwisata itu ditetapkan oleh suatu negara. Ada yang membuat aturan lebih agresif misalnya dengan perimbangan prosentasi penerimaan dari wisatawan secara keseluruhan.

Sayang sekali, karena dalam pariwisata berapa banyak revenue (marginal revenue), yang diperoleh sangatlah sulit diketahui secara pasti, sehingga setiap penambahan dana yang diusulkan hampir sulit dicarikan landasannya.

Teorinya, ada empat metode alternatif yang seringkali dipakai untuk menentukan anggaran pemasaran/promosi, yaitu: Metode Objective-Task, Persentase Penjualan, Competitive Parity dan Arbituary. Metode Objective-Task adalah anggaran yang ditetapkan berdasarkan serangkaian langkah mulai dari penentuan tujuan promosi, penentuan strategi atau satuan tugas yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Dalam hal ini anggaran promosi ditetapkan sesuai asumsi tertentu yang dijelaskan berdasarkan tujuan dan alasan mengapa hal itu dilakukan.

Metode Persentase Penjualan adalah penetapan anggaran promosi berdasarkan presentase tertentu penjualan periode yang lalu atau prakiraan penjualan tahun yang datang. Metode Competitve Parity adalah penentuan besaran anggaran berdasarkan upaya mengimbangi anggaran pesaing. Sedangkan Matode Arbituaty adalah penentuan anggaran tidak melalui proses perencanaan formal dengan anggapan tidak ada kaitan antara volume penjualan dengan besarnya dana promosi. Dasar yang digunakan adalah kemampuan untuk menyediakan dana.

Sejumlah metode ini tentunya memiliki kelemahannya masing-masing. Meskipun banyak pihak yang suka menggunakan Metode Presentase Penjualan, namun ada kecenderungan anggaran pemasaran dinaikkan dengan cara menaikkan angka prakiraan penjualan untuk menjamin tersedianya dana promosi. Demikian pula dengan Metode Competitive Parity, walaupun cara ini menunjukkan pemikiran dalam menghadapi pesaing, tapi tidak ada jaminan bahwa  akan diperoleh gambaran yang akurat tentang pesaing itu.

Bagaimana praktik penentuan anggaran pariwisata di Indonesia? Sejauh ini sepertinya belum ada metode yang jelas dan tegas sebagai patokan termasuk variabel apa yang dijadikan sebagai landasannya. Anggaran bisa berubah berdasarkan arus kebijakan politik suatu masa yang sangat terkait dengan cara pandang penguasa terhadap pariwisata. Di masa lalu, pariwisata hanya diberikan posisi di dalam sebuah kementerian negara, masa yang lain menjadi departemen penuh, dan masa lain lagi hanyadijadikan subsistem dari sebuah departemen besar. Ini jelas berdampak pada penetapan anggaran.

Paling sering terdengar adalah memperbandingkan anggaran serupa dengan negara tetangga. Sejumlah alasan tambahan adalah besarnya jumlah destinasi, jumlah penduduk dan seterusnya. Meskipun menjadi rancu bahwa dalam upaya itu tidak dimasukkan ke dalam pertimbangan yaitu kemampuan SDM dan mentalitas pengelolaan/transparansi anggaran.

Mengapa hal penting itu dilupakan? Kita agaknya lupa Rp100 juta yang dibelanjakan oleh negara tetangga di tangan pengelola yang kredibel, kreatif dan transparan hasilnya bisa lebih  sangat efisien dan efektif dibandingkan dengan Rp 1 miliar yang kita gunakan tapi sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan efektivitasnya termasuk dalam hal kreativitasnya dan transparansinya.

Pada era Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono pariwisata menjadi departemen penuh dengan anggaran pariwisata yang terus mengalami kenaikan. Tapi apa alasan kenaikan itu agaknya hanya dilandaskan pada program yang akan dilaksanakan dan perbandingan negara tetangga. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan revenue. Memang target terus dibuat meningkat, tapi apakah kunjungan wisatawan meningkat atau turun tidak terlalu diperdulikan, yang penting anggaran terus naik?

Dan, menurut hemat kami, dalam kondisi ini, bukan semata-mata soal jumlah besar atau kecil anggaran, tapi bagaimana membelanjakannya. (Pusat Analisis Informasi Pariwisata)

Filed under: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: