Pusat Analisis Informasi Pariwisata

Icon

Dark Tourism (2): Peluang Indonesia Sebagai Destinasi Utama

Oleh Jones Sirait

TUHAN menciptakan Indonesia dengan kondisi geologis dan geografis yang akrab dengan bencana. Para ahli geologi mengibaratkannya seperti negeri “lingkaran api” (ring of fires). Kejadian alam yang maha dahsyat yang merenunggut korban harta maupun nyawa telah akrab terjadi di sini. Sebut saja peristiwa meletusnya Gunung Krakatau 1881 dan gempa dan tsunami di Aceh dan Sumut 26 Desember 2004, termasuk tentunya peristiwa letupan-letupan lain di berbagai daerah, seperti di Papua, NTT, Lampung dan lainnya.

“Warisan” bencana lainnya dapat ditemukan dari rekam jejak kasus penyakit seperti demam berdarah, malaria, dan lainnya, hingga kasus-kasus tragedi sosial seperti kerusuhan Mei 1998, pembantaian yang dilakukan Westerling di Sulawesi Selatan, kasus Sampit, kasus Ambon, kasus serangan teroris di Bali pada 12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005 di Bali, dan masih banyak lagi, termasuk berbagai konflik separatisme. Yang kesemuanya tentu memiliki persamaan yakni telah menyita perhatian masyarakat dunia, menyebabkan jatuhnya korban yang kemudian meninggalkan seribu kisah mengharu-biru, termasuk dengan sejumlah dokumentasinya.

Seperti kita saksikan, peristiwa-peristiwa ini terdapat paduan unsur yang sangat menarik di sana, yaitu sisi human interest dengan kisah-kisah saksi yang masih segar dalam ingatan, kerusakan dan kematian yang sangat luas mencakup mayoritas kabupaten/kota yang ada di sana, pekerja-pekerja kemanusiaan yang berjibaku dengan sulitnya alam, serta sisi tantangan pembelajaran, teka-teki ilmu pengetahuan dan teknologi dan masa depan. Yang kesemuanya adalah fakta di depan mata, bukan fiksi atau rekaan.

Sebagaimana terjadi dalam isu ekoturisme, dark tourism juga memiliki manfaat yang tidak kecil dalam bidang kampanye kemanusiaan, dokumentasi sejarah dan ilmu pengetahuan. Selain itu, dari sisi ekonomis, besarnya jumlah wisatawan Dark Tourism akan dapat mendorong tumbuhnya usaha kecil dan menengah di destinasi, meliputi usaha cinderamata, jasa perjalanan wisata, konvensi, kontraktor, pemeliharaan, usaha akomodasi, transportasi, komunikasi dan seterusnya.

Nah, diskusi pun dimulai dari sini: pertama, mungkinkah tragedi semacam ini menjadi konsumsi wisatawan? Bukankah justru peristiwa semacam ini menjadi momok bagi wisatawan untuk berkunjung ke suatu destinasi, dan tidakkah hal ini justru akan kontraproduktif terhadap masyarakat atau pihak-pihak yang menjadi “korban” yang ingin melupakan peristiwa tersebut? Kedua, bagaimana mengenai anggaran pengembangannya? Ketiga, jika memang memungkinkan untuk disajikan sebagai “produk” wisata, bagaimana caranya?

Pertentangan

Sebelum menjelaskan lebih jauh mengenai permasalahan di seputar Dark Tourism, perlu disampaikan beberapa nilai-nilai positif yang akan muncul dengan digarapnyadark tourism. Jenis wisata ini, akan mendorong penghargaan yang tinggi terhadap dokumentasi sejarah dari setiap peristiwa, dan dimulainya upaya untuk mengembangkan aspek riset dan dokumentasi.

Jenis wisata ini juga berperan sebagai ‘cermin” yang baik untuk melakukan “perubahan” dengan kemampuannya secara positif menjadi “pengingat” dari sisi moralitas atas sebuah peristiwa bencana yang terjadi. Ketiga, tentunya dari sisi penghasilan, jenis wisata ini jika digarap dengan baik akan mempu menjadi penggerak penerimaan devisa dan menghidupkan usaha kecil menengah yang ada di lokasi kejadian.

Namun begitu, baiklah kita mencoba untuk mencoba menjawab tiga pertanyaan yang sudah disampaikan terdahulu. Pertama, soal tantangan psikologis masyarakat Aceh yang ingin melepaskan diri dari trauma bencana itu yang justru tidak ingin mengingatnya lagi, karena tidak ingin terluka terlalu lama.

Ada asumsi bahwa sebuah memorial, misalnya, justru akan mendorong kesedihan yang semakin panjang. Asumsi ini sebenarnya tidak sepenuhnya benar, sebab pada dasarnya setiap orang sebenarnya membutuhkan nostalgia dan tidak dapat lepas dari masa lalu yang justru bermanfaat untuk masa sekarang.

Dalam banyak manfaat sebuah memorial, unsur mengenang dan pembelajaran menjadi unsur penting di sana. Dan, harus pula diterima fakta bahwa turisme akan tetap datang (karena kebutuhan tadi), meskipun masyarakat lokal ingin melupakannya.

Banjir besar di Johnstown tahun 1889 telah menyebabkan kematian 1800 orang penduduk kota ini. Foote (1997, dalam Stephanie Marie Yuill) mencatat, banyak penduduk setempat ingin melupakan banjir ini dan ingin bergerak maju dengan rekonstruksi, dengan pemikiran bahwa memoralisasi bencana itu lebih lanjut hanya akan memperpanjang memori yang menyakitkan. Tapi kenyataan menunjukkan bahwa wisatawan maupun wartawan terus membanjiri tempat itu dan mempertahankan kisah-kisah tragedi yang terjadi.

Contoh lain diberikan dalam kasus the Sixth Floor Depository di Dallas, Texas. Mantan Walikota Texas pernah berkata, “Saya tidak ingin sesuatu mengingatkan saya bahwa seorang presiden (John F Kennedy) telah dibunuh di atas jalan Dallas. Saya ingin melupakannya!” Namun wisatawan dan para pengunjung lain tetap mengunjungi lokasi pembunuhan, dan meninggalkan benda-benda seperti karangan bunga, kartu-kartu dan pernak-pernik lain. Kini, momori kehidupan John F Kennedy, termasuk Sixth Floor Book Depository, menjadi atraksi wisata nomor satu di AS.

Kedua mengenai pendanaan. Persoalan ini menjadi sangat dilematis terutama pada saat kondisi perekonomian Indonesia sedang dalam kesulitan. Demikian halnya dengan anggaran yang dikelola oleh Badan Rekonstuksi dan Rehabilitasi (BRR), Pemda Aceh maupun lembaga-lembaga donor, yang sudah memiliki mata anggaran tersendiri.

Walau begitu, jika Pemerintah Indonesia dan segenap komponen yang terlibat dalam pembangunan Aceh serta masyarakat Aceh tentunya, memiliki visi yang jauh ke depan, hal penggarapan Aceh sebagai destinasi Dark Tourism sedapatnya mendapat perhatian penting, yang dimasukkan dalam proses rekonstruksi dan rehabilitasi itu.

Ada banyak pihak atau instansi yang harus terlibat dalam penggarapan ini. Mereka antara lain adalah Kantor Kementerian Kebudayan dan Pariwisata, Kantor Kementerian Ristek dengan berbagai badan terkait yang ada di bawahnya, Kantor Kementerian Komunikasi dan Informasi, Departemen Agama, para ulama, cendikiawan yang ada di berbagai perguruan tinggi.Keterlibatan lintassektor ini penting sekali terutama dalam hal penyusunan konsep, dan pelaksanaannya di lapangan, terutama misalnya dalam hal keterlibatan para periset di dalamnya.

Contoh kecil bagaimana kita telah “alpa” dalam melihat peluang adalah dalam membangun lebih baik sebuah dokumentasi penting peristiwa meletusnya Gunung Krakatau. Kita tak terpikirkan untuk “melacak” rekaman dokumentasi yang tersebar di berbagai belahan dunia mengenai peristiwa ini, untuk selanjutnya “menggarapnya”, misalnya dengan membangun museum, memorial atau pusat riset dan event berkaitan secara berkesinambungan. Jika hal itu ada sejak dulu, entah lokasinya di Lampung ataupun Banten, kita tentu saja akan dapat menggenjot penerimaan turis setiap tahunnya.

Begitu pula dengan peristiwa-peristiwa lain, yang sepertinya kita telah melakukan “kesalahan” dengan tidak serius dalam melakukan dokumentasinya. Padahal, berbagai peristiwa itu sangat berharga.

Ketiga, bagaimana kemudian konsep awal pembangunan destinasi Dark Tourism itu. Untuk hal ini, menurut hemat kita, untuk kasus-kasus spesial, konsep “three in one” yaitu menggabungkan konsep momorial-museum-institute (research center), menjadi pilihan terbaik untuk dilakukan. Kemudian dipadukan dengan konsep link (terhubung) dengan pembangunan objek-objek pendukung di berbagai kabupaten/kota yang ada sesuai dengan karakteristik kejadian yang dialami masing-masing lokasi. Dalam konsep ini, kita ingin sebuah destinasi yang lengkap sekaligus misi untuk mendistribusikan wisatawan bukan hanya kepada satu-dua tempat tapi di banyak tempat dalam satu kunjungan.

Dilihat dari kelengkapan dan keapikan penyusunan skenario dan interior museum, yang disajikan oleh Memorial Museum di Oklahoma layak untuk ditiru. Ada detail, penggunaan perangkat audio visual yang variatif, penyusunan event dan seterusnya, sehingga kejadian pengeboman Gedung Federal Murrah memberikan kesan hebat bagi para pengunjungnya. Anda dapat menemukan bongkahan reruntuhan orisinil di salah satu ruang pamernya, melihat boneka, gelas dan buku diary korban, baju para petugas SAR, foto-foto dan kliping koran, hingga catatan-catatan asli reporter yang melaporkan kejadian itu ke medianya, termasuk penayangan siaran berita kejadian dari berbagai media di seluruh dunia, dan dalam sebuah ruangan Anda bisa mendengarkan detik-detik sebelum, saat dan setelah pengeboman dari rekaman suara termasuk jeritan tangis di salah satu ruangan di gedung itu. Ada juga corat-coret dukungan simpati dari berbagai pihak untuk memberikan semangat hidup bagi korban yang selamat serta keluarganya.

Dalam kasus gempa dan tsunami di Aceh, kita agak meragukan apakah dalam kondisi yang sekarang kita memiliki detil atau jangan-jangan sudah banyak yang terhilang begitu saja. Ini memang disayangkan, karena semua itu adalah bukti-bukti sejarah yang nilainya sangat tinggi di masa-masa datang.

Filed under: Destinasi, Pariwisata Umum, Pemasaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: