Pusat Analisis Informasi Pariwisata

Icon

Oh, Statistik!

Oleh Jones Sirait

BERAPAKAH jumlah wisatawan MICE kita sesungguhnya, dari mana asalnya, bagaimana pertumbuhannya per tahun, bagaimana pilihan venue mereka, siapa organizer (perusahaan PCO atau independen?), apa tema pertemuan yang paling banyak diselenggarakan, daerah mana terbanyak menyelenggarakan event MICE? Pertanyaan-pertanyaan itu adalah beberapa saja dari sekian banyak pertanyaan yang tetap masih “mengambang” jawabannya saat ini.

Fakta bahwa tidak ada statistik yang lengkap dan bisa dipertanggung jawabkan tentang industri MICE kita menjadi persoalan serius yang sangat mengganggu. Bagaimanakah sebuah industri bisa berkembang tanpa statistik? Bagaimana membuat perencanaan dan riset tanpa adanya data-data?

Incca (Indonesia Congress and Covention Association) sebagai asosiasi yang terdepan dalam bisnis MICE ini, ternyata belum punya data. Asperapi yang khusus pameran juga tidak. Jika ada itu pun hanya memiliki data anggota mereka dan statistik penyelenggaraan pameran yang diselenggarakan anggota mereka sendiri. Pemerintah, dalam hal ini Departemen Kebudayaan dan Pariwisata? Seharusnya ya, tapi faktanya mereka tidak memiliki statistik khusus yang dipublikasikan secara rutin mengenai industri ini.

Itu sebabnya, jika ada yang ingin melakukan riset, perencanaan dan atau pemasaran mengenai industri MICE di Indonesia akan mengalami kesulitan bukan main, karena terpaksa harus melakukan riset tersendiri untuk mencari data primer yang tentu akan memakan waktu lama. Duh!

Inti persoalan bermula dari tidak satunya persepsi kita tentang MICE. Satu masih berhaluan Pariwisata, satunya lagi berhaluan Perindustrian dan Perdagangan, bahkan satunya lagi berhaluan Pemuda dan Olahraga. Karena ada banyak haluan maka masing-masing tidak memiliki tanggung jawab untuk mengurusi statistik umum, kecuali secara parsial, yang sebenarnya secara faktual juga mengalami kendala, misalnya tidak adanya SDM yang khusus mengurusi masalah itu.

Selain itu, ada masalah lebih dasar lagi, yaitu defenisi yang tidak sama tentang apa itu MICE, apa itu “Meeting”, apa itu “Incentive”, “Conference”, “Exhibition”, dan apa itu yang dimaksud “wisatawan MICE”? Apakah ia sama dengan seseorang yang melakukan perjalanan “bisnis” sehingga konon jumlah wisatawan MICE jauh melebihi jumlah yang tercatat dalam klasifikasi wisatawan dengan tujuan pertemuan yang ada selama ini?

Beberapa masalah krusial ini memang bukan hanya terjadi di Indonesia tapi juga terjadi di berbagai negara dan dalam asosiasi-asosiasi internasional. Terpecahnya asosiasi/organisasi MICE ke dalam segmen yang lebih spesifik adalah salah satu penyebabnya. Asosiasi konvensi membuat definisi dan metodologi tersendiri yang berbeda dari asosiasi pameran dan perjalanan insentif. Begitu juga antarasosiasi internasional yang terkait, yang memiliki konsern yang sama tentang organisasi-organisasi internasional yang mengadakan pertemuan, misalnya antara ICCA dan UIA.

MICE ini memang industri besar dengan banyak segmen pendukung, yang memiliki induk asosiasi yang berbeda-beda. Itulah salah satu penyebab sulitnya persoalan statistik ini. Maka apa yang terjadi di tingkat internasional itu terjadi juga di tingkat regional maupun lokal. Jika dalam konteks negara ada egoisme sektoral yang mempersulit perkembangan pariwisata, maka di tingkat subsektor seperti MICE ini ada egoisme antarsegmen yang suka atau tidak suka telah menyebabkan kendala dalam kemajuan MICE setidaknya dalam kerangka pemenuhan statistik itu.

Saya mengusulkan agar pemerintah mengambil inisiatif untuk segera menyelesaikan persoalan ini sebelum permasalahan semakin kusut. Pemerintah harus mengumpulkan setidaknya tiga sektor terkait seperti Depbudpar, Deperindag dan Deplu plus BPS dan pihak industri untuk membahas kembali apa definisi MICE, wisatawan MICE, dan lainnya. Apa kriteria yang dimaksud dengan “Meeting International”itu? Berapa minimal peserta, berapa negara, apakah harus berotasi di berbagai negara anggota dan seterusnya. Sedapat mungkin kita harus memiliki definisi dan atau kriteria sendiri.

Kemudian bagaimana implementasinya? Siapa akan mengambil peran sebagai penyelenggara statistik MICE; apakah BPS atau pihak industri atau kerja sama keduanya? Bagaimana hubungan definisi dan kriteria yang ditetapkan itu memiliki koneksi dengan definisi dan kriteria yang berlaku secara internasional? Dalam hal ini, harus dibangun mekanisme yang baku dan berkelanjutan untuk memasok statistik itu ke asosiasi di tingkat internasional maupun regional. Bahkan Indonesia harus mengambil inisiatif pembahasan statistik dalam pembicaraan pariwisata di tingkat ASEAN, misalnya, atau di tingkat lebih luas seperti Asia dan Pasifik.

Saya mengetahui bahwa beberapa waktu lalu, sudah ada niatan baik untuk membenahi masalah ini, setidaknya dengan pertemuan antara Incca, BPS maupun Depbudpar. Tapi saya kira hasilnya belumlah optimal dan harus lebih komprehensif, termasuk pengolahan data (analisis) yang dipasok secara rutin meliputi banyak aspek, misalnya trend penggunaan PCO, venue, penggunaan IT, analisis asosiasi dan jenis MICE dan seterusnya.

Singkatnya, harus segera dibenahi masalah statistik. Jika tidak, akan repot industri MICE kita!

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah VENUE, 2008

Filed under: MICE, Pemasaran, Statistik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: