Pusat Analisis Informasi Pariwisata

Icon

Wajah Indonesia dalam “Bidding” FIFA World Cup (2)

Oleh Jones Sirait

Kita punya sejumlah catatan yang kiranya bisa menjadi perhatian pihak PSSI dalam pertarungan bidding ini hingga 14 Mei 2010, tanggal yang ditetapkan FIFA sebagai batas waktu bagi masuknya dokumen lengkap bidding, termasuk dalam menghadapi pertemuan penentuan pada Desember 2010.

Pertama, mengenai tim bidding dan kampanye yang paripurna yang harus menjadi “Indonesia Team” termasuk jaminan bagi pendanaannya. PSSI sebagai calon tuan rumah akan konyol rasanya kalau maju seorang diri. Ini terkait dengan pertanyaan bisakah pengurus teras di PSSI menjadikan ambisi pribadi menjadi ambisi bangsa dan menarik seluruh komponen bangsa ini bersatu untuk menjadi satu tim untuk membawa event besar ini ke Indonesia?

Soal ini menjadi persoalan yang sangat serius bagi Indonesia saat ini. Ketika kita bicara ambisi untuk menjadikan Indonesia sebagai destinasi MICE di Asia dan Pasifik, kita sama sekali tidak pernah menjadi tim yang satu, karena untuk membawa event MICE internasional ke Indonesia diperlukan kerja sama lintassektor khususnya dari pejabat kita di luar negeri dan asosiasi-asosiasi internasional di Indonesia. Harus ada ambisi bersama yang terkoordinasi dengan baik dan diperjuangkan dengan keras.

Kita harus belajar dari strategi total football yang dimainkan sejumlah negara dalam berjuang memenangkan bidding World Cup, Olimpiade dan atau mega event sejenisnya. Tim ini harus lintassektor, lintasnegara, lintasdaerah, lintaspelaku dunia usaha,  lintasmasyarakat, dan lintastokoh yang mengambil perannya masing-masing. Komandonya ada di tangan presiden dan wapres dengan korlapnya dwitunggal PSSI dan Mennegpora. Pemerintah dalam hal ini harus mengupayakan anggaran dana untuk keperluan bidding ini.

Kita harus mengambil pelajaran dari pertarungan Inggris dengan Perancis saat berjibaku untuk merebut tuan rumah Olimpiade 2012 yang dimenangkan oleh London karena tim bidding yang kuat dan kepiawaian PM Inggris Tony Blair saat melobi 104 anggota komite eksekutif IOC di Singapura, yang membalikkan dukungan suara yang sebelumnya diperkirakan kuat dimenangkan Paris (Perancis) akhirnya dimenangkan Inggris dengan perbandingan suara tipis 50 (Paris), 54 (London).

Tim bidding harus memastikan bahwa semua media kampanye harus dimanfaatkan secara optimal, dan semua sisi lobi disentuh dan ditembus. Dalam hal ini, Indonesia harus bisa meyakinkan komite eksekutif FIFA dan dunia bahwa demi keadilan musim 2018 dan atau 2022 harus menjadi milik Asia, meski kebijakan rotasi sudah dihapus sejak 2007. Jika Eropa sudah menjadi tuan rumah 2006 (Jerman), kemudian Afrika 2010 (Afsel), Amerika Selatan tahun 2014 (Brazil), maka tidak ada alasan untuk mengembalikannya ke Eropa dengan melewatkan Asia. Jika terpaksa harus ke Eropa (misalnya London yang disebut-sebut calon kuat) untuk 2018, maka harus ada kebijakan khusus bahwa 2022 menjadi milik Asia, dan mudah-mudahan itu adalah Indonesia sebagaimana kebijakan yang ditempuh FIFA dalam penetapan Brazil. Adakah peluang seperti itu?

Menurut saya, FIFA itu bukan dewa besi dan tinggal bagaimana kita meyakinkannya. Dan jika AFC bisa meyakinkan ini, maka Indonesia hanya akan berhadapan dengan Jepang, Korsel, Australia dan Qatar, yang diakui merupakan pesaing berat namun masih bisa didekati dengan lobi khusus dengan mengedepankan semangat Asia. Para pesaing ini, kecuali Qatar, sebelumnya sudah pernah menjadi tuan rumah World Cup maupun Olimpiade dan mungkin ada kebaikan hati untuk mendukung Indonesia, apalagi Jepang selama ini dikenal suka membela Indonesia dalam berbagai bidding.

Kedua, tim ini harus melihat kepada “nilai lebih” (value) yang dimiliki Indonesia, baik itu nilai Indonesia untuk masyarakat global dan nilai event ini untuk masyarakat Indonesia.Indonesia harus bisa meyakinkan 24 orang anggota komisi eksekutif FIFA mengenai betapa pentingnya event ini bagi kita, bagi masyarakat kita dan juga bagi dunia. Itu sebabnya isu “Green World Cup” menjadi bagian penting dalam proposal kita untuk menjelaskan sikap dan komitmen Indonesia dalam isu climate change global. Itu adalah komitmen Indonesia untuk dunia melalui World Cup.

Ketiga, Indonesia harus bisa meyakinkan tentang betapa pentingnya World Cup ini bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia dan bagi peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat melalui fasilitas olahraga di berbagai daerah. Kita butuh suatu messages yang kuat sekelas dikumandangkan Tony Blair pada saat bidding Olimpiade. “Our vision is to see millions of young people participate in sport and improve their lives. London has the power to make this happen,” kata Blair. Atau seperti ucapan Ratu Elizabeth II: “I’ve been impressed by the way everyone has united behind London’s bid. As a country we share a passion for sport.”

Indonesia memiliki keunggulan tak terbantahkan bahwa bangsa ini begitu mencintai sepakbola, sebuah negeri yang “haus bola”, dengan sebuah tradisi unik bahwa cerita bola menjadi perbincangan rutin atau sarapan pagi di mana-mana; pluralitas yang teragung di dunia, keunikan kultur dan seni, dan harus mampu mengaitkan pentingnya World Cup ini sebagai bagian terpenting dalam upaya meningkatkan kesejahteraan dan peningkatan pelayanan kesehatan dan keolahragaan untuk melahirkan generasi Indonesia yang sehat, bersahabat dan memberikan kebaikan bagi dunia. Hal itu tidak berlebihan, karena dengan terbangunnya berbagai infrastruktur olahraga dan pendukungnya di berbagai daerah maka akan berdampak besar bagi peningkatan pelayanan masyarakat, kualitas hidup dan perekonomian daerah.

Sebagai catatan akhir, kita perlu mengingatkan bahwa ini event besar dan sangat penting bagi Indonesia yang memiliki dampak  yang sangat besar pula. Bangsa besar harus punya mimpi besar. Dan mimpi besar harus dipersiapkan dengan benar, kerja keras dan strategi yang besar pula. Jika ini politik, jadikanlah ini politik bangsa bukan politik pribadi atau kelompok. (*)

Filed under: MICE, Pariwisata Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: