Pusat Analisis Informasi Pariwisata

Icon

Siapa Penikmat Terbesar Destinasi Wisata Khatulistiwa

Oleh Jones Sirait
Pusat Analisis Informasi Pariwisata

Pada saat kita begitu terbuai dengan berbagai kekayaan alam dan bentangan alam khas tropis termasuk flora, fauna dan kehidupan alam liarnya, kita harus mati-matian bersaing dengan produk yang sama ditawarkan negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, hingga Brasil, Peru, Kolombia, Ekuador (Amerika) dan Kenya, Tanzania, Gabon, Somalia (Afrika) yang, misalnya, sama-sama terletak di garis khatulistiwa, atau negara-negara yang berada antara 10 derajat lintang utara dan 10 derajat lintang selatan.

Soal diversity, soal besar atau kecil, soal asli atau imitasi, kadang tak bisa lagi dibedakan akibat perang promosi yang megacomplex, entah itu melalui saluran yang terlihat maupun yang tak terlihat. Mereka punya beach dan hill resort, mereka punya fasilitas dan layanan yang kelas dunia, mereka punya kekayaan seni dan budaya bahkan sejarah, mereka punya kekayaan flora, fauna yang khas tropis. Sama seperti kita punya. Tapi who cares? Mereka tak perlu ke Indonesia jika mereka bisa menikmatinya dengan aman dan nyaman di Thailand atau Malaysia. Atau tak perduli apakah pantai itu imitasi di Singapura bagi mereka itu sama saja yang penting happy. Ini bukan salah mereka tapi salah kita.



Tepat bahwa destinasi di Afrika dan Amerika bukan kompetitor kita. Tapi jika persoalan kekayaan wisata jadi ukuran, maka menjadi menarik untuk mengetahui siapakah yang menjadi penikmat besar iklim tropis itu sebenarnya? Dan mengapa? Hal ini penting untuk melihat faktor apa saja yang sangat berpengaruh dalam mendatangkan wisatawan.

Sangat jelas penerima terbesar anugerah alam tropis itu justru bukan Indonesia, bukan pula Brazil, tapi Malaysia, Thailand dan Singapura. Walaupun kita punya raksasa keajaiban dunia yang tak bisa dibandingkan yang dimiliki negara-negara tetangga itu, walaupun kita punya keramahtamahan (kita peraih penghargaan paling murah senyum sedunia versi survei The Smiling Report 2009, dari AB Better Business berbasis di Swedia) dan services yang berkelas dunia.

Masalah kita, mungkin betul, selalu puas berhenti untuk memperdebatkan potensi yang extra-large class, tapi selalu gagal dalam eksekusinya.

Kemanakah para wisatawan itu Eropa, Asia Timur dan Oseania pergi pada peak season bulan Juli-Agustus? Saat kita dirobek oleh serangan bom, pada bulan itu wisatawan mengalihkan kunjungannya ke destinasi lain. Atau pada musim tingginya pengunjung pada akhir atau awal tahun (Desember-Januari)? Kita pun diganggu lagi dengan bom dan bencana alam. Konsolidasi yang kita lakukan terus dimentahkan.

Apa yang salah? Saya berkesimpulan enam hal: Pertama, kita tak pernah serius (mentally and attitudes). Kedua, kita gagal menata destinasi dan pemasarannya; Ketiga, kita gagal dalam mengelola industri kita; Keempat, kita gagal dalam mengelola kelembagaan; Kelima, kita gagal dalam memberikan rasa aman dan nyaman; Keenam, kita gagal dalam menata sistem transportasi kita.

Sebagai contoh bagaimana kita telah gagal dalam mengelola destinasi adalah tidak munculnya destinasi utama baru di luar Bali. Kegagalannya bukan karena tidak ada keinginan dan upaya, tapi justru didorong karena tidak fokus; ingin membangun semua dan akhirnya semua serba setengah-setengah. Dalam pemikiran saya, adalah keliru (bahkan tidak boleh) semua provinsi dipaksa untuk menjadi destinasi unggulan. Karakteristik wilayah dan dukungan social and cultural capital setiap daerah tak sama. Anda kemungkinan akan membuang uang percuma dan hasilnya pun akan bertabrak-tabrakan dengan banyak kepentingan. Demi fokus dan keseimbangan, saya sendiri berpikiran dalam 50 tahun ke depan, cukuplah hanya lima destinasi utama yang benar-benar posisinya setara dengan Bali dalam konteks destinasi yang mass tourism, yang kita sebut sebagai pusat pertumbuhan; lainnya tetap dikembangkan sebagai destinasi yang restricted.

Untuk mencapainya, setidaknya dalam 25 tahun ke depan dua destinasi utama baru harus muncul. Lima destinasi lain menjadi destinasi layer utama kedua. Maka ke depan kita cukup hanya memiliki 10 destinasi; lima sebagai paling utama, dan lima sebagai utama kedua, yang mencerminkan pembagian timur, tengah dan barat Indonesia. Sementara Bali dalam proses itu harus memulai babak baru rejuvenasi dan rebranding agar tetap fresh dan bahkan lebih baru lagi. Proses semacam ini tidak terlihat sampai hari ini.

Filed under: Destinasi, Pariwisata Umum, Pemasaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: