Pusat Analisis Informasi Pariwisata

Icon

Mengapa Pariwisata Kita Gagal? (2)

Oleh Jones Sirait
Pusat Analisis Informasi Pariwisata

Serge Tchuruk, CEO Alcatel Alsthom dan Percy Barnevik, dari Asea Brown Bovery Ltd (ABB), saya kira dua diantara banyak CEO yang ”berperang” dengan lingkungannya – dan dirinya – untuk mendorong terjadinya sebuah reformasi.

Serge Tchuruk berada pada posisi sulit ketika dia berupaya untuk menyelamatkan perusahaan Perancis, Alcatel Alsthom ini dari kerugian akibat pemborosan pembayaran, dan ia tahu risikonya manakala dia tak melakukan perubahan radikal, meskipun ia tahu bahwa tidak semua senang dengan langkah itu. Tapi, ia tak perduli. Ia tetap melakukan restrukturisasi globalisasi struktur organisasi dan mengadaptasi budaya (culture) perusahaan menjadi lebih berorientasi pasar atau fokus ke konsumen, termasuk melakukan evolusi dari “engineering culture” ke “business culture”, yang keseluruhannya menjadi “culture of Alcatel” baru. Dan, atas kesadaran dan keberanian ini, dia bisa memberikan keuntungan bagi Alcatel Alsthom, yang berarti juga keuntungan bagi pihak-pihak yang menentangnya.

Hal yang kurang lebih sama dialami Percy Barnevik ABB. Sosok yang oleh The Economist sebagai ”Superstar Manajemen Eropa” ini membawa perubahan bagi ABB yang beroperasi di 140 negara, justru dengan konsistensi pada konsep “small is beautiful”.

Bukan kebetulan, Barnevic besar dalam perusahaan keluarga yang kecil, dengan 15 orang pekerja. Jika seorang pekerja masih ada di rumah pada Senin pagi atau terjadi masalah yang berkaitan dengan kualitas cetakan mereka, dia tahu konsekuensi langsung bagi perusahaan dan pelanggan. ”Saya telah melihat begitu banyak kesia-siaan, inefisiensi, kelambanan dan birokrasi ini organisasi yang besar. Dalam organisasi ABB yang transpransi Anda tidak dapat bersembunyi. Anda visible dan accountable. Ini bukan ancaman tapi kesempatan,” katanya. (Lihat dalam Price Waterhouse Coopers, “Straight Form The CEO; The World’s Top Business Leaders Reveal Ideas That Every Manager Can Use”, G William Dauphinais and Colin Price (Ed), Fireside Rockefeller Center, New York, 1999 p.42-43)

Saya ingin memberikan contoh lain. Lihatlah perubahan yang terjadi pada industri media dewasa ini, khususnya berkait dengan proses produksi koran, yang dituntut semakin integratif dan, tentunya, semakin lebih murah. Cetak offset dengan penggunaan proses empat warna yang berkembang pesat sejak 1980-an, kini telah dituntut semakin cepat dan satu pintu, dengan penggunaan komputer desktop, perangkat lunak word processing, perangkat lunak grafis, kamera digital dan pracetak dijital serta teknologi jenis huruf telah berubah secara revolusioner, dan telah masuk ke dalam proses produksi koran secara terpadu.

Teknologi-teknologi ini memberikan kemampuan bagi koran untuk mencetak foto berwarna dan grafis yang inovatif dan dalam disain yang terbaik. Jika dulu untuk proses penyimpanan file hanya terbatas pada kemampuan disket berpasitas kecil, 1,4 mega bite, kini setiap jurnalis maupun petugas grafis dan pracetak dengan mudah melakukan penyimpanan dan pemindahan file berbagai jenis software dengan kapasitas besar hingga beberapa ribuan mega mite (giga bite). Perubahan semacam ini telah memaksa semua pihak yang terkait industri printing melakukan penyesuaian.

Begitulah, saya kira, apa yang menjadi bagian penting dari orang-orang dan industri ini- dan para CEO atau industri lainnya- adalah kesadaran mereka akan pentingnya ”perubahan untuk menyelamatkan”, dan berani menerima risiko dari pilihan itu. Orang-orang ini bukan pemimpin yang berdalih dan hanya bisa mempersalahkan bawahan, tapi menempatkan dirinya sebagai ”role model”.

Seorang CEO memahami hal ini dan memastikan bahwa langkah yang dipilihnya sudah dilakukan berdasarkan pemahaman dengan baik mengenai perusahaan dan pendekatan apa yang mereka butuhkan untuk ”perubahan” itu. Sekali lagi, meskipun hal itu sulit.

Lalu kembali kepada pertanyaan mengapa pariwisata Indonesia sepertinya terkunci dalam ruang sempit dan tidak pernah bisa melompat ke ruang lain yang lebih besar selama satu-dua dekade belakangan? Mengapa kita tidak pernah mampu untuk menambah kunjungan wisatawan? Mengapa kita tidak pernah mampu untuk memperluas pasar? Mengapa kita tidak pernah mampu untuk mengembangkan pariwisata di luar Bali?

Salah satu faktornya adalah kita tidak melakukan cukup perubahan untuk menghadapi arus perubahan besar di tingkat regional maupun internasional. Meskipun arus reformasi terjadi secara politik tahun sejak 1999, kita tidak menemukan formasi yang sama dalam dunia pariwisata. Kita bahkan kehilangan arah atau garis besar haluan pembangunan kepariwisataan, yang menyebabkan kita berjalan tanpa panduan, tanpa impian.

Dan, malangnya, kita telah gagal dalam mengadopsi prinsip-prinsip ini menjadi sebuah culture baru bagi operasionalisasi pariwisata di lapangan.

Filed under: Destinasi, MICE, Pariwisata Umum, Pemasaran, SDM, Statistik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: