Pusat Analisis Informasi Pariwisata

Icon

Belajar dari Keseriusan Kota-kota Dunia Mengembangkan MICE

Oleh Jones sirait
Pusat Analisis Informasi Pariwisata

Seoul, ibukota Korea Selatan menjadi kota kedua di Asia yang bisa disebut sebagai kota MICE terpenting, setelah Singapura. Tahun 2008, International Congress and Convention (ICCA) menempatkan kota ini para peringkat ke-8 setelah Stockholm (pada 2006 Seoul peringkat ke-7), sedangkan Singapura pada peringkat ke-4. Sementara berdasarkan negara, Korea Selatan menjadi peringkat ke-16 dunia.

Keberhasilan kota berpenduduk 10 juta jiwa dan merupakan kota ke-8 terbesar di dunia, memang cukup mengejutkan, karena sebelum tahun 2000 mereka masih tertinggal jauh. Tentu akan semakin mengejutkan jika obsesi kota ini yang sangat meyakinkan untuk menempatkan kota mereka melejit ke lima besar pada tahun 2012. Mungkinkah? Tentu saja, karena mereka tidak hanya bermimpi atau berpidato, tapi sangat serius dan bekerja keras dalam perencanaan dan implementasinya.

Tahun ini, Seoul mengambil posisi terdepan dalam kampanye 2010-2012 Visit Korea Years. Sepanjang tahun itu pula, Seoul menjadi tuan rumah sejumlah event internasional, diantaranya tahun 2010, ketika Seoul akan merayakan diri sebagai the World Design Capital, dengan sejumlah event lain yang mengikutinya. Pada bulan November 2010, Seoul akan menjadi tuan rumah KTT G20 yang akan diikuti 30 pimpinan negara dan lebih dari 10.000 partisipan. Pada bulan November itu juga Seoul akan menggelar “Korea MICE Expo”. Pada bulan Oktober 2010, kota ini juga menggelar Formula 1 di Yeonnam, sekitar 40 menit dari Seoul.

Menariknya, untuk tahun 2010 Seoul sudah mematok angka 300.000 wisatawan MICE, yang jika dihitung akan memberikan dampak langsung pengeluaran wisatawan yang tidak sedikit jumlahnya, selain itu tentunya adalah citra Korea Selatan di dunia internasional semakin bersinar.

Sebenarnya apa saja yang mereka persiapkan? Kalau dilihat sebenarnya bukanlah suatu hal yang super hebat, tapi lebih pada sisi efektifitasnya, keteraturannya dan kedisiplinnya dalam mengembangkan industri ini. Pertama, mereka menyusun “Perencanaan Promosi Industri MICE 2010” (2010 MICE Industry Promotion Plan) khusus Seoul. Mereka membantu para organizers untuk menjadikan konvensi mereka berhasil, termasuk dalam kasus pesertanya berasal dari berbagai organisasi internasional, mereka membantu untuk bertemu dengan walikota Seoul misalnya dalam kaitan “site inspection”.

Kedua, masih terkait dengan hal pertama di atas, terus mengokohkan posisinya dengan citra sebagai “optimal place for the MICE industry‘. Mereka melakukan pemasaran dan adveritising global, termasuk dengan mengundang para jurnalis khusus MICE dan menggelar sesi pertemuan promosi di Eropa dan Asia mengenai persiapan kota ini menggelar pertemuan internasional. Ketiga, mereka sangat memanfaatkan momentum KTT G20, dengan menawarkan insentif G20 (G20 incentive) bagi conference’s organizer.

Bagi partisipan asing yang menghadiri konferensi itu, Seoul juga mereka mempersiapkan sebuah booklet yang mereka sebut “Seoul Golden 20 – 20 Things to Do in Seoul”. Insentif itu termasuk pemberian subsidi bagi konferensi, pertemuan makan siang maupun makan malam yang diorganisir oleh Kota Seoul, termasuk pemberian souvenir. Insentif juga diberikan bagi perusahaan-perusahaan yang menggelar pertemuan di Seoul pada bulan Desember 2010, yang besaran insentifnya tergantung pada skala pertemuan.

Sekarang, mari kita lihat diri kita. Impiannya sih selangit tapi, maaf, ”jauh dari bumi”. Kalau dilihat dari level kota, mungkin perlu dipertanyakan keseriusan Jakarta, misalnya, dalam mengembangkan diri sebagai destinasi MICE. Dalam skala nasional juga, perlu juga dipertanyakan bagaimana Kemenbudpar merencanakan, mengeksekusi dan mengevaluasi pembangunan industri yang dikenal dengan three larges (large output, large opportunities for employment, and large industry associations), dan three advantages (the advantage over other industries in human resources, technological know-how, and the efficient utilization of assets) ini.

Kita mendengar Kemenbudpar punya impian untuk menjadikan Indonesia sebagai destinasi MICE penting di Asia, itu bagus sebagai political will, tapi yang lebih kita butuhkan adalah aksi yang meyakinkan kita tentang adanya upaya serius mencapai impian itu. Kita tidak mendengar ada koordinasi dan kerja sama yang cukup bagus dengan stakeholders lain. Industri ini butuh banyak insentif, yang tidak hanya keluar dari kantong anggaran pemerintah tapi juga dengan kerja sama yang apik dengan sector private.

Memang terdengar pemerintah menyiapkan insentif (dengan penyiapan dana) bagi bidding dengan mengeluarkan sejumlah dana, namun yang juga kita butuhkan adalah insentif apa yang diperoleh para organizers maupun peserta dan para pihak lain yang terlibat dalam pertemuan internasional untuk menarik minat mereka menggelar pertemuan di Indonesia?

Filed under: Destinasi, MICE, Pemasaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: