Pusat Analisis Informasi Pariwisata

Icon

Integrasi Pariwisata ASEAN?

Oleh Jones sirait
Pusat Analisis Informasi Pariwisata

DI tingkat regional, saat ini kita sedang sibuk membahas mengenai upaya percepatan integrasi ekonomi ASEAN 2015, dengan prioritas pertamanya pada bidang pariwisata, angkutan udara, e-ASEAN dan healthcare. Bagaimana peluang kita?

Seperti diketahui, sektor pariwisata menjadi salah satu sumber pemasukan utama dan penampung tenaga kerja bagi negara ASEAN. Tahun 2007, ASEAN menerima lebih dari 61 juta wisatawan internasional dan mengalami pertumbuhan lebih dari 9,8 persen. Dari jumlah itu 49 persennya disumbangkan oleh wisatawan intra-ASEAN. Dari 6,42 juta wisatawan yang berkunjung ke Indonesia 2008, setengahnya berasal dari negara-negara ASEAN.

Konon dari jumlah penduduk 600 juta jiwa, dan sekitar 40 juta orang di kawasan ASEAN melakukan perjalanan tahun 2008. Hanya 2,5 juta ke Indonesia, terbanyak dari Singapura (sekitar 1,4 juta) dan Malaysia (900 ribu). Angka itu pada sisi lain mengandung pesan masih terbukanya pasar yang lebih intensif untuk kawasan ini bagi Indonesia. Atau jangan-jangan 40 juta itu justru adalah orang Indonesia sendiri, karena jumlah penduduk Indonesia seorang diri adalah setengah dari jumlah penduduk ASEAN?

Konsep ASEAN sebagai sebuah destinasi tunggal (single destination) sebenarnya bukan konsep yang baru. Sejumlah negara di berbagai kawasan lain sudah mencoba menerapkannya, misalnya terhadap apa yang sudah lebih dulu dilakukan Uni Eropa, kemudian Karibia, bahkan juga di Afrika Timur, meski hal itu tetap menyisakan sejumlah persoalan.

Di Karibia (meliputi 14 negara), cita-cita untuk menjadi destinasi tunggal dicoba dilakukan dengan mengintegrasi pemasaran bersama untuk tetap destinasi unggulan di tengah kawasan lain yang menjadi pesaing destinasi ini. Apalagi potensi intra-regional (Karibia) yang besar yakni 70 persen.

Hal yang sama juga telah menjadi perhatian serius negara-negara di Afrika Timur yakni Burundi, Kenya, Uganda, Tanzania, Rwanda meski memang masih tergolong baru dibandingkan dengan Karibia dan ASEAN.

Konsep integrasi itu merupakan bagian dari sebuah konsep yang memberikan jalan kepada kepada manajemen yang inovatif, responsif dan profitable. Dalam kasus Uni Eropa, pengembangan single destination merupakan bagian penting karena sektor pariwisata menyumbang kontribusi penting bagi setiap negara yakni 11 persen GDP UE (Hussain dan Bylinski, 2007), apalagi mengingat wisatawan asal intra-UE memberikan kontribusi 71 persen wisatawan yang mengunjungi Uni Eropa yang dikenal sebagai destinasi yang memiliki infra dan suprastruktur “high quality” dengan produk wisata yang berbeda, serta kemampuan tinggi pihak otoritas di negara masing-masing untuk menyediakan dana untuk pemasaran maupun pembangunan destinasi.

Dengan demikian dapat dimaklumi mengapa Eropa tetap menjadi leading dalam pariwisata dunia, dengan posisi Spanyol, Perancis, Jerman, Inggris bahkan Turki yang melesat ke atas. Kombinasi dari tingginya kualitas pembangunan jaringan transportasi udara dan darat, dan wilayah geografis yang lebih kecil, tinggi mobilitas penduduk, serta kualitas komponen fisik yang mendukung kenyamanan dan keamanan menyebabkan distribusi yang meluas dan besar wisatawan dari kawasan maupun dari luar kawasan.

Tapi, bagaimana multi destinasi di berbagai negara dikelola melalui sebuah proses manajemen destinasi dan pemasaran yang terpadu untuk memberikan keuntungan bagi seluruh negara kawasan? Akankah konsep Uni Eropa itu akan sukses untuk ASEAN?

Dalam banyak pertimbangan, sebenarnya single destination itu lebih cocok diterapkan untuk negara-negara yang memiliki luas geografis yang tidak terlalu besar, seperti negara Indochina yakni Kamboja, Laos,  Vietnam plus Thailand. Mereka punya wilayah negara  yang tak terlalu besar, memiliki jarak yang relatif singkat dengan penggunaan moda angkutan udara dan darat sekaligus, relatif memiipertumbuhan dan  daya saing yang sama dari sisi ekonomi dan memiliki produk wisata dengan variasi antara satu negara dengan negara lain.

Karena integrasi sangat terkait dengan supply dan demand, maka sasaran yang ingin dicapai adalah bagaimana memperbesar nilai penawaran dan menyeimbangkannya dengan semakin besarnya pasokan. Itu sebabnya yang sangat penting dalam integrasi itu adalah integrasi pemasaran dan integrasi pengembangan destinasi. Pengembangan dana bersama yang adil dan hal-hal lain terkait sumber daya manusia penting disentuh pada tahap-tahap awal. Adalah lebih mudah bagi negara-negara untuk menggali potensi pendanaan jika masing-masing negara memperoleh benefit yang sama atas usaha yang dilakukannya bersama-sama.

Dalam koteks ASEAN sejumlah kesulitan yang akan dialami adalah terlalu luas dan gap jarak, waktu, dan moda yang digunakan. Coba lihat bagaimana seakan terpisahnya “Filipina” dan Timor Leste di utara dan selatan. Juga konsentrasi negara-negara yang berada di bagian barat laut Indonesia khususnya di sepanjang garis pantai Teluk Thailand, yang meliputi Malaysia, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam.

Ini, menurut saya, ibarat perilaku pengunjung mall atau plaza; adalah aneh jika pengunjung untuk membeli sebuah produk yang bisa dibelinya di mall A. Jika ia bisa memperolehnya di sana dengan harga sesuai, maka  akan aneh dan mubazir jika ia pergi juga ke mall B atau C. Kecenderungan konsumen kita adalah  membeli produk tertentu di satu mall bukan di beberapa mall, kecuali jika mall pesaing mampu memberikan harga yang lebih rendah, atau pilihan produk yang berbeda. Artinya harus pula ada promosi untuk menyampaikan hal itu kepada konsumen yang tepat.

Dalam konteks pariwisata, kita juga mengenal tenggat waktu. Dengan lama tinggal (lenght of stay) yang pendek (2-3 hari), wisatawan yang berkunjung ke ASEAN sangat mungkin merupakan limpahan dari wisatawan yang berkunjung ke kawasan di luar ASEAN sebelumnya, sehingga menjadikan destinasi di ASEAN sebagai hub terakhir. Meskipun kemungkinan berbeda bisa terjadi.

Lalu bagaimana? Dalam konteks destinasi, saya kira integrasi pariwisata ASEAN hanya akan menguntungkan jika dilekatkan pada posisi destinasi wisata Indonesia yang ada di pantai Timur Sumatera, plus sebagian destinasi di Kalimantan. Dan, jangan terlalu murah memberikan kemudahan, untuk persoalan yang bisa merugikan pemasukan negara dengan dalih integrasi. Kepentingan bangsa harus ditempatkan lebih utama.

Filed under: Destinasi, Pariwisata Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: