Pusat Analisis Informasi Pariwisata

Icon

Meneropong Arah Masa Depan Pariwisata

JAKARTA- Pada awal 1970-an, biaya terbang dari Australia ke London sama seperti harga sebuah mobil Holden. Tak aneh kalau pada era 1970-an dan 1980-an, industri bergerak lamban, belum ada hotel bintang lima di sejumlah tempat, termasuk sarana dan prasarana pendukung lainnya. Di Brisbane, Australia, misalnya hotel jenis ini baru ada sekitar tahun 1985.

Tapi coba lihat dalam perjalanan 25 tahun belakangan. Investasi tumbuh begitu cepat. Negara-negara luar menanamkan modalnya untuk membangun destinasi, hotel, penerbangan dan lainnya. Dalam 10 tahun terakhir perkembangan semakin pesat setelah adanya penerbangan murah. Untuk Australia, misalnya, seperti diungkapkan Tony Charters, Principal & Convenor Tourism Futures, Tony Charters and Associates, seperti dikutip Traveldailynews, belum lama ini, bersamaan dengan suksesnya ekonomi negara itu, warga Australia memperoleh penghasilan lebih, akses murah untuk melakukan perjalanan internasional – sebuah perubahan dari kebiasaan sebelumnya untuk melakukan liburan ke Gold Coast atau Sydney atau Melboune.

Itulah sebuah gambaran bagaimana pariwisata telah mengalami perkembangan yang pesat selama seperempat abad belakangan ini. Lalu bagaimana prediksi 20 tahun ke depan?

Professor Ian Yeoman, yang menyebut dirinya sebagai seorang ‘specialist futurist’ dalam pariwisata dan perjalanan dari Victoria University, Selandia Baru, melihat akan terjadi pertumbuhan eksponensial yang berlanjut. Namun masa depan pariwisata internasional tidak akan lagi didominasi orang-orang Barat.

Menurutnya, jika ingin melihat kembali ke belakang ke tahun 1950, dimana statistik pertama kali tercatat, 25 juta orang melakukan liburan internasional. Tahun 2009, lebih dari 900 juta orang telah melakukan hal yang sama. Terlihat dunia semakin kaya dan semakin banyak melakukan perjalanan, dan diperkirakan hingga tahun 2030 akan ada 1,9 miliar orang yang mengambil liburan internasional.

“Jadi Anda melihat sebuah pertumbuhan eksponensial. Dan pertumbuhan eksponensial itu akan datang dari negara-negara berkembang dengan kelas menengah mereka yang semakin sejahtera akan melakukan wisata internasional. Secara fundamental kita bicara mengenai ekonomi Asia dan China. Selama konsumen sejahtera, identitas mereka adalah tentang berwisata, dan itulah yang akan mendorong pertumbuhan eksponensial di seluruh dunia pada decade mendatang,” kata Prof Ian Yeoman.

Kemana mereka akan berwisata? Menurut Prof Ian Yeoman, mereka akan berwisata lintas benua seperti Afrika dan Eropa. “Ini transformasi dalam masyarakat, dan tahun 2030, 2040, akan menjadi biasa bagi wisatawan China untuk melakukan perjalanan ke Australia atau ke Eropa.”

Dia yakin, pasar baru wisatawan itu tidak akan mencari sesuatu yang sama seperti destinasi yang lama, misalnya sun and sea, yang ditawarkan destinasi-destinasi tua. “Mereka akan mencari “s” lain. Mereka akan mencari shop, status, dan sight-seeing, misalnya.  Dengan begitu, destinasi yang dijadikan target pasar ini harus melakukan sesuatu yang berbeda. Dengan kata lain, kita tidak bisa menjual produk dan layanan lama seperti yang ditawarkan destinasi tua seperti Jerman, Italia, Perancis, Inggris, Amerika.”

“Mereka ingin sesuatu yang berbeda, dan mereka ingin pelayanan yang juga berbeda. Pertimbangkan juga mengenai perbedaan budaya: makanan, agama mereka yang berbeda, sehingga harus diperhitungkan secara serius dalam menarik wisatawan baru,” sambungnya.

Bagaimana dengan trend penerbangan? Majalah The Economist memperkirakan selama satu decade ke depan tiga penerbangan dari negara-negara Teluk, yakni Dubai, Qatar dan Abu Dhabi akan membawa hampir 200 juta penumpang tiap tahun. Dan salah satu strategi kunci mereka adalah dengan menargetkan wisatawan besar yang terlupakan dari Afrika dan Asia.

Pada Juni lalu, salah satu maskapai, AirAsia, telah menawarkan penerbangan kembali dari London ke Melbourne hanya 240 dolar Australia. Bagi pelaku perjalanan dan wisatawan dan industri terkait lainnya, tampaknya hal itu baik, namun apakah hal itu akan bertahan?

Menurut Tony Charter, industri penerbangan memiliki banyak tantangan dengan berfluktuasinya harga minyak, depresi ekonomi negara-negara Barat, dan hal itu menciptakan sebuah tantangan. Dari perspektif Australia, negara ini memiliki banyak kesempatan yang terbuka; memiliki akses yang terbuka bagi penerbangan murah. Namun, menurutnya, dalam jangka panjang, ada banyak tantangan dalam hal ini. Dia kembali menyinggung soal harga minyak dan banyaknya uang yang dikeluarkan untuk teknologi.

“Dengan banyaknya tantangan bagi industri saat ini, khususnya terkait lingkungan, termasuk di sejumlah tempat dimana pajak carbon dikenakan, hal itu bisa jadi membuat lebih mahal,” katanya.

Namun Prof Ian Yeoman menyebut semua ini mengenai persepsi saja. Saat ini, kata dia, perubahan iklim tidak berdampak pada konsumen dan perjalanan, isu itu hanya agenda politik.  “Serangan terbesar perubahan iklim dalam kaitan berhentinya perjalanan wisatawan adalah terkait minyak dan harganya. Menurut saya, perubahan iklim tidak berdampak pada pariwisata. Wisatawan saat ini memiliki identitas yang cair: satu sisi mereka sangat konsern dengan lingkungan, contohnya, mereka akan melakukan ekowisata tiga minggu di Afrika, sesuatu yang sangat etis; namun di sisi lain mereka sangat nyaman dengan liburan hedonistic di Las Vegas.”

“Jadi wisatawan saat ini tidak konsern mengenai lingkungan meskipun mereka mengatakan mereka sangat peduli, dan komentar mengenai hal ini sangat beragam dari wisatawan yang satu dengan yang lainnya,” begitu Prof Ian Yeoman. (paip)

 

Filed under: Destinasi, MICE, Pariwisata Umum, Pemasaran, SDM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: